Harga Produk Elektronik Di Indonesia Merangkak Naik

price up1

Berdasarkan data dari lembaga riset GFK sepanjang tahun 2014, seluruh sektor industri elektronik di Indonesia mengalami keterpurukan karena kondisi ekonomi yang tidak stabil akibat beberapa hal. Seperti dilansir Liputan6, “hingga akhir November 2014, pasar bisnis elektronik di Indonesia hanya menyentuh angka Rp 36 triliun. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, pasar elektronik Tanah Air mencapai Rp 37,7 triliun,” kata Andry Ady Utomo, National & Sales General Manager PT Sharp Electronics Indonesia (SEID) yang dihubungi tim Tekno Liputan6.com.

Sejumlah faktor yang mempengaruhi hal tersebut di antaranya adalah penurunan nilai rupiah, kenaikan tarif listrik, penerapan lebel Standar Nasional Indonesia (SNI), pengurangan subsidi BBM, dan lain sebagainya.

“Akibat penurunan nilai rupiah, tahun ini saja kami sudah menaikkan harga produk elektronik hingga 15% sejak Januari hingga April 2015. Pasalnya, nilai dolar Amerika Serikat (AS) juga naik hampir 15% dari tahun lalu,” terang Ady.

Ady menuturkan, pada Juni 2015 perusahaannya telah menaikkan lagi harga elektronik yang dipasarkan hingga 3-5%. Strategi tersebut dipilih karena di momen Lebaran ini beberapa karyawan mendapatkan gaji ke-13 atau tunjangan hari raya (THR).

“Harapan kami kenaikan harga elektronik 3-5% ini tidak terlalu mengganggu pasar karena pasar lagi ramai. Lain halnya bila kami menaikkan harga di bulan sepi, seperti Januari atau April, pasti kami akan sulit jualan,” pungkasnya.

Ady memaparkan, jenis produk elektronik yang naik adalah TV LCD dengan kenaikan harga 2%, lemari es 3%, small home 5%, mesin cuci 3%, dan pendingin ruangan (AC) 3%.

“Kenaikan harga di bulan Juni ini, kami memakai standar dolar AS dengan nilai Rp 14 ribu. Bila nilai dolar AS menyentuh Rp 15 ribu, kami akan menaikkan harga lagi. Nilai yang bisa kami toleransi adalah Rp 14 ribu, kalau lebih dari itu kita akan mengurangi produksi,” ungkapnya.

Sebagai solusi untuk mengatasi kurs rupiah yang semakin melemah, Ady memaparkan beberapa strategi yang dinilainya cukup jitu.

“Solusi untuk mangatasi kurs rupiah yang melemah kalau dari sisi sales adalah menaikkan harga. Tapi kalau dari purchasing, akan negosiasi mengenai currency. Strateginya adalah kami tidak akan memakai patokan dari dolar AS lagi,” jelasnya.

Misalnya, lanjut Ady, kalau kami membeli komponen dari Thailand, kami memakai patokan baht, kalau dari China memakai yuan, kalau dari Malaysia pakai ringgit.

“Secara bertahap kami akan memakai strategi itu. Kami tidak mau profit hilang hanya gara-gara nilai tukar dolar yang menguat. Kalau kami memakai patokan harga komponen dengan nilai mata uang negara yang bersangkutan, kami bisa melakukan negosiasi dengan lebih fleksibel,” tutupnya.

Sumber : Liputan6

Share this article
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a reply